energi lihat situs sponsor
 
Kamis, 20 Juli 2017  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Petani Jarak Merasa Dibohongi Pemerintah
msh (Kompas Cyber Media)

Kamis, 7 Agustus 2008 | 21:16 WIB

MASIH ingat tanaman jarak (Jatropha curcas) yang pernah gencar disosialisasikan untuk ditanam untuk mengatasi krisis bahan bakar minyak? Di Indonesia Timur sudah banyak yang menanam, tetapi saat panen seperti sekarang, ternyata tak ada pembeli!

"Tiga desa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selayan yang mengembangkan jutaan tanaman jarak, kini mengalami kerugian, karena belum ada pembeli yang jelas yang akan mengambil hasil produksinya," kata Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Gowa Djamaluddin Maknun, Kamis (7/8).

Ketiga desa yang dimaksud adalah Desa Pencong, Julukanaya, dan Tonrorita yang berada di Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, dengan luas lahan sekitar 385 hektar. Dari luas areal tanaman jarak tersebut, setiap hektar mampu dihasilkan sekitar 200 kg biji jarak.

Menyikapi fenomena itu, Djamaluddin mengatakan, pihaknya kini mencoba menjembatani untuk mencarikan pembeli, baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini dimaksudkan agar usaha petani yang sudah mengluarkan biaya dan tenaga tidak sia-sia. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada yang ingin membeli, apalagi sejumlah pihak yang akan mengembangkan ’biofuel’ pada awal penanaman jarak tahun lalu, berjanji untuk membeli semua produksi petani," katanya.

Merasa dibohongi

Yahya, seorang petani tanaman jarak di Desa Tonrorita mengatakan, tahun lalu petani ramai-ramai menanam jarak, karena mendapat ’janji manis’ dari pemerintah yang menggandeng investor untuk membeli produksi petani dengan harga yang pantas.

"Namun setelah pohon jarak berlimpah, tidak ada yang membeli, sehingga kami merasa tenaga kami terbuang percuma," katanya sembari menambahkan bahwa sebenarnya ada yang mencoba membeli seharga Rp1.000 per kilogram, namun petani menilai harga itu tidak sebanding dengan biaya pengembangan dan perawatan pohon jarak selama setahun.

Penanaman pohon jarak dengan memanfaatkan lahan kritis ini sebenarnya dirintis Juli 2007 lalu. Tiga provinsi di Indonesia masing-masing Sulsel, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sumatera Selatan mendapat bantuan 25.000 bibit pohon jarak. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono sendiri yang menyerahkan bantuan secara simbolis pada tiga gubernur daerah tersebut di Kecamatan Pangkalan Balai, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

HM Amin Syam yang masih menjabat sebagai Gubernur Sulsel saat itu, menerima langsung 8.000 lebih bibit tanaman jarak dari Presiden untuk dikembangkan pada lahan kritis di Sulsel yang luasnya sekitar 20.000 hektare.

Selain untuk memperbaiki kondisi lahan kritis, penanaman jarak juga dimaksudkan untuk meningkatkan penghasilan para petani, serta memberikan solusi pengadaan minyak bakar (biofuel) untuk mengganti bahan bakar minyak (BBM) yang semakin berkurang stoknya.

msh
Sumber : Ant

Sumber : Petani Jarak Merasa Dibohongi Pemerintah

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 8 Agustus 2008

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI