energi lihat situs sponsor
 
Kamis, 20 Juli 2017  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Masa Depan Milik Hidrogen
imy

Dunia bergerak memasuki era hidrogen. Peta jalan (road map) yang disusun negara-negara maju menargetkan penggunaan secara massif bahan bakar berbasis hidrogen mulai 2015. Di Kanada dan AS, tabung hidrogen sebagai sumber energi listrik malah sudah mulai diperjualbelikan.

Harga per unit tabung ini memang masih mahal, yakni 3.000 dolar AS. Namun, tabung ini bisa menjadi sumber listrik yang berkesinambungan lantaran dapat diisi ulang, Selain bisa dibawa ke mana-mana (portable), tabung ini efektif untuk menyalakan pelbagai peralatan listrik. ''Contoh kecilnya men-charge laptop atau ponsel,'' kata koordinator Program Fuel Cell Puslit Fisika Terapan LIPI, Dr Achiar Oemri, kepada Republika.

Inilah tabung fuel-cell. Sebagai pembangkit listrik, fuel-cell menghasilkan energi yang diperoleh dari reaksi kimia antara gas hidrogen dari air dan oksigen dari udara. Bahan baku utama fuel-cell adalah gas hidrogen yang dapat digangsir, antara lain, dari sinar matahari, sampah organik (biomass), hingga angin. Jelas, kata Achiar, ini adalah sumber energi terbarukan yang jumlahnya berlimpah di negeri ini.

Indonesia bukannya tak berkecimpung di jagat teknologi fuel-cell. Puslit Fisika Terapan LIPI telah menciptakan prototipe sepeda motor berbahan bakar hidrogen, Versa, tiga tahun lalu. Namun, Versa belum bisa ngebut di jalanan seperti halnya sepeda motor konvensional. Sel tunamnya masih sering ngedrop, sehingga perlu dibuat sirkuit yang lebih konsisten.

Ada tiga perangkat utama yang menjadi komponen vital Versa, yakni kotak sel tunam (fuel-cell stack), tangki hidrogen mini (hydrogen storage) bertekanan 30-50 bar, serta motor listrik berkekuatan 400 watt. Hydrogen storage berfungsi menampung bahan bakar hidrogen, seperti halnya tangki bensin pada motor konvensional. Sayangnya, tempo pembangkitan listrik dari tangki hidrogen Versa cuma dua jam.

Andai kendaraan hidrogen bisa diproduksi secara massal, maka konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia berpotensi dipangkas secara signifikan. Sektor transportasi tercatat sebagai pengonsumsi minyak terbesar yakni 47 persen BBM negeri ini (data tahun 2003) dan tetap akan menjadi pengonsumsi minyak paling serakah di masa depan.

Lebih jauh, pemanfaatan energi terbarukan untuk mengatasi kelangkaan minyak memang sudah menjadi keniscayaan. Pasca-booming minyak pada dekade 1970, cadangan minyak Indonesia terus susut dari 15 ribu metrik barel (MB) pada 1974 menjadi hanya 4.301 MB pada 2004.

Sementara produksi minyak Indonesia kian merosot dari 1.686,2 ribu barel per hari pada 1977, menjadi 1.094,4 ribu barel per hari pada 2004. Negeri pendiri OPEC inipun tekor 49,3 ribu barel minyak per hari. Kabar buruknya, status Indonesia turun derajat menjadi pengimpor minyak (net oil importer) sejak 2002.

Masih menjadi perdebatan kapan kelangkaan minyak akan mencapai puncaknya. Kubu yang pesimistis menengarai tahun 2010, sementara pihak yang optimistis meramalkan adanya kemungkinan memanfaatkan sumber minyak nonkonvensional seperti heavy oil, tarsands, dan cell oil, sehingga puncak kelangkaan minyak akan terjadi 20-30 tahun mendatang. Para saintis Indonesia mencoba mengantisipasinya. Salah satunya menciptakan kendaraan fuel-cell.

Sayangnya, dibanding negara-negara lain, perkembangan teknologi fuel-cell di Indonesia masih tertinggal. Ketika Indonesia baru menciptakan prototipe sepeda hidrogen, pabrikan Jepang, Toyota, telah merilis mobil hidrogen komersial seharga Rp 1 miliar. Negara kota Singapura, kata Achiar, juga sudah mendirikan dua unit SPBU berbahan bakar hidrogen. Padahal, baru enam unit mobil hidrogen saja yang berseliweran di jalanan kota Singapura. Mereka berancang-ancang memasuki era hidrogen.

Pembangkit stasioner

Sulit untuk meramalkan kapan Indonesia bisa memproduksi kendaraan hidrogen komersial. Penciptaan Versa pun, menurut Achiar, sebetulnya lebih didasari oleh keinginan menarik perhatian masyarakat pada teknologi fuel-cell. ''Sasaran kita sebetulnya lebih mengarah pada menciptakan pembangkit listrik fuel-cell stasioner, seperti di rumah-rumah sebagai substitusi listrik PLN,'' ujar dia menerangkan.

Di ranah ini, tim Puslit Fisika Terapan LIPI baru pada tahap mempelajari modul-modul pembangkit listrik tenaga fuel-cell berkapasitas satu kilowatt (kw). Modul-modul ini diimpor dari luar negeri dengan harga cukup mahal, yakni 7.000 dolar AS per kotak sel tunam, belum termasuk sistemnya. Karenanya, biaya riset fuel-cell terhitung mahal dan dalam kadar tertentu menjadi kendala.

Nah, yang tengah diperjuangkan LIPI saat ini, menurut Achiar, adalah membikin kotak sel tunam sendiri berbasiskan komponen lokal, yakni membran polimer dan oksida padat yang bahan bakunya banyak ditemui di Indonesia untuk pembangkit listrik 1 hingga 2 kw. ''Sebab yang disebut fuel-cell buatan sendiri haruslah memiliki kandungan lokal mendekati 100 persen,'' tutur dia.

Soal kapan LIPI mampu menciptakan fuell-cell lokal, Achiar sulit memastikan. Sebab, pengembangan teknologi mutakhir fuel-cell memerlukan sokongan dari banyak pihak. Contoh kecilnya, untuk menciptakan membran polimer dibutuhkan bahan grafit dan sayangnya belum ada lembaga riset di Indonesia yang siap menyediakan bahan tersebut.

Lambannya pengembangan dan pemanfaatan teknologi fuel-cell di negeri ini adalah buah dari riset-riset yang dilakukan sporadis. Karena itulah menilik amat strategisnya peran fuel-cell di masa mendatang, diperlukan program nasional pengembangan fuel-cell. Sayangnya, para pengambil keputusan belum menganggap masalah ini sebagai hal penting.

Jangan sampai, kata Achiar, kita mengulang kesalahan pada pengembangan teknologi ponsel. Akibat terlambat menguasai teknologi telekomunikasi mutakhir ini, Indonesia tak menyumbang apa pun pada pengembangan teknologi ponsel, dan hanya menjadi negara pembeli produk ponsel.

Sumber : Republika (11 Juli 2007)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 18 Juli 2007

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI