energi lihat situs sponsor
 
Jumat, 21 September 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Minyak jarak lebih untung dari briket batu bara
Muslimin Nasution (APBI-ICMA (dari Bisnis Indonesia))

Pemerintah telah memprogramkan penggunaan briket batu bara secara massal untuk keperluan rumah tangga penduduk miskin. Sebagai langkah teknis merealisasikan program tersebut, pemerintah menganggarkan Rp150 miliar untuk pembelian sepuluh juta tungku briket batu bara yang akan dibagikan secara gratis atau dijual murah kepada penduduk miskin.

Rencananya, anggaran tersebut akan dibebankan kepada APBN 2006. Di sisi lain, masih dalam rangka menanggulangi kemiskinan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan energi alternatif, pemerintah juga sedang merintis kegiatan penanaman jarak pagar di berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Jarak pagar ini akan digunakan untuk membuat minyak jarak sebagai alternatif pengganti solar atau minyak tanah.

Adanya program-program tersebut menunjukkan betapa pemerintah sangat peduli kepada nasib rakyat miskin. Namun demikian, ditinjau dari berbagai aspek seharusnya pelaksanaan program pengembangan minyak jarak lebih diprioritaskan dibandingkan program briket batu bara, khususnya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Perbandingan antara briket batu bara & minyak jarak ditinjau dari berbagai aspek

Briket batu bara Minyak jarak Pengeluaran konsumen per 5500 kcal Rp1.500 Rp1.157 Subsidi pemerintah Ada, terutama untuk penyediaan tungku gratis/murah Tidak ada Penciptaan lapangan kerja untuk investasi Rp2,5 miliar 50 orang 3.000 orang Pengaruh terhadap kesehatan Menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker paru-paru dan infeksi saluran pernafasan Tidak menimbulkan penyakit Dampak terhadap lingkungan Polusi gas karbondioksida dan zat berbahaya lain, kerusakan bekas areal pertambangan Rehabilitasi lahan yang rusak, pemanfaatan lahan terlantar * diolah dari berbagai sumber

Konsumsi minyak tanah rakyat miskin sekitar 2,7 juta kiloliter per tahunnya. Jumlah ini dapat disubstitusi seluruhnya oleh minyak jarak, sebab potensi produksi minyak jarak Indonesia setiap tahunnya berkisar antara 20 juta kiloliter hingga 60 juta kiloliter.

Dengan potensi ini, bahkan konsumsi total minyak tanah yang 'hanya' 12 juta kiloliter per tahun semuanya dapat dipenuhi oleh minyak jarak.

Lebih jauh, tabel menggambarkan beberapa pertimbangan penting mengapa upaya pengembangan minyak jarak harus didahulukan dibandingkan usaha pengembangan briket batu bara.

Briket batu bara mahal

Harga briket batu bara di tingkat konsumen adalah Rp1.500 per kg. Meskipun harga ini seolah-olah lebih murah dibandingkan harga minyak jarak (Rp2.000 per liter berdasarkan perhitungan pesimistis), namun jika dihitung berdasarkan nilai kalorinya ternyata minyak jarak lebih murah.

Satu kilogram briket batu bara hanya mengandung kalori rata-rata sebesar 5.500 kcal, sementara satu liter minyak jarak memiliki kalori rata-rata sebesar 9.500 kcal. Dengan demikian, harga minyak jarak untuk kalori sebesar 5.500 kcal hanya Rp1.157, atau Rp325 lebih murah dibandingkan dengan briket batubara.

Jika konsumsi rata-rata minyak tanah satu keluarga miskin per harinya adalah setengah liter, maka keluarga tersebut akan membutuhkan sekitar 0,8 kg briket batu bara sebagai pengganti minyak tanah. Dengan demikian, mereka harus mengeluarkan Rp432.000 untuk membeli 228 kg briket batu bara setiap tahunnya.

Sedangkan jika konsumsi minyak tanah disubsitusi oleh minyak jarak, satu keluarga miskin membutuhkan 0,47 liter minyak jarak per hari. Dalam satu tahun, keluarga tersebut harus mengeluarkan Rp339.000 untuk membeli 170 liter minyak jarak.

Jadi, minyak jarak lebih layak dibandingkan briket batu bara dilihat dari segi cost yang harus dikeluarkan konsumen keluarga miskin.

Sementara itu, keluarga miskin juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli tungku briket batu bara. Tetapi karena biaya ekstra untuk tungku ini dianggap akan mengurangi minat keluarga miskin menggunakan briket batu bara, pemerintah memutuskan untuk menggratiskan atau menjual murah komponen tersebut. Artinya, pemerintah akan mengeluarkan subsidi.

Tentu subsidi dalam hal ini menjadi tidak relevan terutama karena pemerintah telah bertekad menghilangkan seluruh subsidi di sektor energi.

Investasi briket batu bara juga lebih bersifat padat modal dibandingkan investasi minyak jarak. Dana sebesar Rp2,5 miliar jika diinvestasikan dalam briket batu bara hanya menyerap tenaga kerja sekitar 50 orang, sedangkan jika ditanamkan di usaha minyak jarak akan menyerap tenaga kerja 60 kali lipatnya.

Dengan biaya sekitar Rp1 triliun seluruh lahan kritis di Jawa seluas 400.000 hektare bisa termanfaatkan untuk pengembangan minyak jarak. Di samping itu, pemanfaatan lahan kritis tersebut akan menciptakan lapangan kerja untuk 1,2 juta orang.

Dalam kondisi masyarakat yang sedang dilanda krisis tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, investasi tidak mungkin diarahkan sekadar untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Investasi juga memiliki fungsi sosial, di antaranya adalah menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya.

Karena itu jika dipandang dari fungsi sosialnya, investasi untuk pengembangan minyak jarak jauh lebih layak dibandingkan dengan investasi briket batu bara.

Merusak kesehatan

Tulisan Igor O'Neill dalam harian Kompas (15/10/2005) melukiskan secara gamblang betapa berbahayanya briket batu bara jika digunakan untuk keperluan rumah tangga. Pengguna briket batu bara terancam berbagai penyakit degeneratif seperti kanker paru-paru atau kanker tenggorokan.

Mengutip WHO, O'Neill menyatakan memasak dengan bahan bakar padat di ruangan menyebabkan kematian dini. Menurut penelitian, korban terbanyak adalah perempuan dan anak-anak.

Bahaya ini semakin nyata jika mengingat rumah-rumah di Indonesia biasanya tidak memiliki cerobong dapur sebagai saluran pembuangan asap.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga lain juga menunjukkan kesimpulan yang sama. Penyakit kanker maupun infeksi saluran pernafasan akan menjadi risiko akibat polycyclic aromatic hydrocarbons yang dihasilkan oleh proses pembakaran batu bara, serta zat-zat lain yang beracun seperti sulfur, merkuri, arsenik, selenium, dan fluorida.

Lain halnya dengan minyak jarak. Sejak dulu minyak jarak digolongkan ke dalam clean energy atau green energy. Penelitian membuktikan bahwa minyak jarak tidak mengandung buangan beracun sehingga-jangankan dibandingkan dengan briket batu bara-dibanding minyak tanah pun masih jauh lebih bersih.

Penggunaan briket batu bara juga berpotensi mengotori udara terutama akibat emisi karbondioksida yang dihasilkan dari proses pembakarannya.

Penggunaan briket batu bara juga akan memicu kegiatan pertambangan dalam skala yang lebih ekstensif, padahal tidak jarang lingkungan sekitar area pertambangan rusak parah akibat kegiatan pertambangan yang dilakukan di area itu.

Berlawanan dengan kerusakan lingkungan yang sangat mungkin timbul akibat penggunaan briket batu bara, penelitian menunjukkan penggunaan minyak jarak dapat menurunkan emisi karbon dioksida hingga lebih dari 50

Dengan demikian, selain keuntungan ekologis berupa udara yang lebih bersih, sangat mungkin bagi Indonesia mendapat keuntungan ekonomis dari penurunan emisi karbon dioksida tersebut dengan memanfaatkan kerja sama antar-negara dalam konteks Protokol Kyoto.

Dengan demikian, berdasarkan pertimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan, pengembangan dan penggunaan minyak jarak untuk rumah tangga seharusnya lebih diutamakan.

Penggunaan batu bara masih dimungkinkan sebagai alternatif mengatasi kelangkaan BBM. Tetapi untuk penggunaan dalam rumah tangga, alangkah baiknnya juga dikembangkan penggunaan minyak jarak.

Bisnis Indonesia, Peluang Bisnis, Hal. T3, Selasa, 6-Des-2005

Oleh Muslimin Nasution,
Ketua Majelis Wali Amanat Institut Pertanian Bogor

Sumber : APBI-ICMA (dari Bisnis Indonesia)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 22 Desember 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI