energi lihat situs sponsor
 
Senin, 19 November 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Mentan: Saatnya Mengembangkan Energi Biodiesel
MAR

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan ini saatnya pemerintah melakukan substitusi kebutuhan energi dari hanya bahan bakar tak terbarukan dengan biodiesel yang terbarukan. Di banyak negara, perkembangan biodiesel sangat cepat dan cenderung meningkat.

"Dengan naiknya harga minyak seperti sekarang ini, saatnya kita siap-siap melakukan substitusi dengan biodiesel. Memang, harga bahan bakar biodiesel saat ini masih lebih tinggi daripada harga solar karena harga solar masih disubsidi," kata Menteri Pertanian, Jumat (24/6) di Jakarta.

Ia menyebutkan beberapa sumber energi terbarukan yang bisa digunakan untuk biodiesel, seperti minyak sawit, minyak jarak, dan gasohol. Teknologi biodiesel sudah dikuasai, tetapi tidak ada investor yang masuk.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) Didiek Hadjar Goenadi mengatakan, negara-negara yang sumber daya alamnya terbatas tengah mencari cara menyelamatkan energi mereka.

"Ini bisa dilihat, mereka yang tidak kuat dalam cadangan minyaknya telah lebih dahulu mencari alternatif energi yang terbarukan. Mereka beralih dari solar ke biodisel," kata Didiek mengomentari tingginya perkembangan penggunaan biodiesel di sejumlah negara.

Kebijakan energi nasional

Didiek menyebutkan perkembangan penggunaan biodiesel di beberapa negara terkait dengan kebijakan energi nasional mereka. Di Indonesia, pemerintah harus menetapkan kebijakan energi nasional.

"Kita sebenarnya sudah memiliki kajian-kajian pengembangan biodiesel hingga 2025," katanya. Pada tahun ini setidaknya sebanyak lima persen dari energi nasional berasal dari energi terbarukan. Sedangkan penggunaan biodiesel direncanakan pada tahun 2010 sebanyak 0,72 juta kiloliter, tahun 2015 1,5 juta kiloliter, dan tahun 2025 sebanyak 4,7 kiloliter.

Menurut Didiek, terkait dengan pengembangan biodiesel dari minyak sawit, kebijakan pemerintah perlu memberi peluang pengembangan diversifikasi di hulu. Ini dilakukan bila terjadi kelebihan produksi CPO, dengan cara demikian harga CPO bisa stabil.

" Ini harus dimulai sekarang karena tidak bisa diproduksi terus dipakai. Paling tidak butuh waktu lima tahun dan itu bersamaan dengan ketika menipisnya cadangan minyak," katanya.

Sumber : Kompas (25 Juni 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 27 Juni 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI