energi lihat situs sponsor
 
Kamis, 19 Juli 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Menghitung hari kehadiran PLTN: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
red

Saat krisis ekonomi Asia tahun 1997 datang menghantam Philipina dan Indonesia termasuk 2 negara yang kebangkitan ekonominya berjalan paling lamban dibanding dengan negara ASEAN lain, yaitu Thailand dan Malaysia. Salah satu faktor yang menghambat terjadinya pemulihan ekonomi di Philipina yaitu terjadinya krisis listrik berkepanjangan sejak 1998/1999. Ketidaktersedianya dana guna menjamin pengadaan pasokan listrik menjadikan situasi krisis ekonomi semakin menjadi-jadi, apalagi Philipina tidak beruntung seperti Indonesia yg memiliki sejumlah cadangan minyak dan gas bumi.

Sekarang ketika sedikit demi sedikit mulai memasuki tahapan kebangkitan kembali ekonomi Indonesia mesti menghadapi kenyataan pahit bahwa cadangan minyak dan gas bumi nasional semakin menipis disamping kenyataan bahwa harga minyak bumi yg selalu naik dan berfluktuasi berakibat buruk bagi situasi ekomomi. Indonesia akan segera menjadi berstatus negara "net oil importer country" pada tahun 2015, hingga apabila tidak tanggap bertindak mengantisipasi kondisi kritis ketersediaan sumber energi dan listrik akan tinggal menghitung hari akan munculnya krisis listrik dengan segala implikasinya.

Upaya melangsungkan pembangunan ekonomi nasional serta meningkatkan taraf kehidupan masyarakat secara berkesinambungan akan sangat berkepentingan akan ketersediaan infrastruktur. Dan pasokan tenaga listrik menjadi salah satu prasarana yang amat vital baik untuk kegiatan industri maupun kebutuhan domestik dalam rumah tangga.

Sebagai bandingan -guna tetap dapat menjaga momentum laju pertumbuhan ekonomi- Negeri China yang berlari kencang dengan pertumbuhan ekonomi yg berkelanjutan -rata-rata selalu diatas 5 persen per tahun- merencanakan pembangunan 20 reaktor PLTN dalam jangka satu dekade 10 - 15 y.a.d. Selama ini sumber tenaga listrik negeri China didominasi oleh pasokan pembangkit listrik tenaga batubara dan gas bumi.

Diluar negara industri maju terkemuka Asia yakni Jepang dan Korea Selatan, maka negara berkembang India dan Pakistan pun agaknya akan memasuki babak pendirian PLTN sebagai pilihan penyediaan sumber daya listrik.

Menurut prakiraan para ahli kelistrikan nasional dengan proyeksi tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata 5aka kebutuhan sumber daya listrik nasional dalam tahun 2025 akan dua kali lipat dibanding kebutuhan energi tahun ini = 500 joule per kapita.

Selewat tahun 2015 Indonesia akan memasuki masa bahaya berlangsungnya "krisis listrik" jika tidak tanggap serta waspada dalam antisipasi pembangunan pusat tenaga listrik. Berhubung jika pasokan listrik tetap mengandalkan sumber daya konvensional -yakni dari energi yg tak terbarukan (BBM, gas, dll)- jelas bahwa kebutuhan listrik yg demikian tumbuh pesat tidak akan mampu terpenuhi.

Indonesia memang memiliki cadangan batubara yg relatif besar: 30 milyar ton. Namun alternatif pilihan penyediaan tenaga listrik dengan batu bara sebagai substitusi BBM bukan merupakan solusi yang tepat, berhubung pembakaran batu bara yg intensif akan berakibat peningkatan "efek rumah kaca" dan polusi terhadap lingkungan hidup yang berujung pada pemanasan global. Intensitas karbon buangan sisa pembakaran batubara adalah yg tertinggi ( 80 persen lebih ) dibanding minyak bumi (sekitar 70-80 persen) dan gas alam (-/+ 60 persen). Menurut kajian WWF dalam kampanye "Power Switch!" sektor pembangkit listrik di seluruh dunia selama ini merupakan sumber terbesar emisi gas carbon CO2 yakni: 37 persen yang mencemari atmosfir bumi.

Suka atau tidak suka Indonesia mesti siap beralih untuk mulai melangsungkan pembangunan pembangkit tenaga listrik dengan sumber energi non-konvensional atau energi terbarukan yaitu: solar sel, panas bumi, angin, biomassa, gelombang laut, dan energi nuklir. Khusus untuk energi nuklir hingga kini memang masih terus hangat diperdebatkan pro-kontra kelayakan penggunaannya di Indonesia. Aktivis lingkungan hidup selalu bertahan di garis keras sebagai pihak yang paling menentang pembangunan PLTN.

Sumber : IPTEKnet

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 28 Mei 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI