energi lihat situs sponsor
 
Senin, 19 November 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Belajar dari Negeri China dalam menata energi nasional
red

"Belajarlah sampai ke Negeri China" dalam ajaran agama Islam pantas menjadi pandangan bagi segenap bangsa Indonesia dalam menata energi nasional, yakni ketika China maupun Indonesia tengah sama-sama berupaya menjadi industri maju dan menghadapi kendala kebutuhan pasokan sumber daya energi yg meningkat tajam sejalan dengan pembangunan ekonomi kedua bangsa.

Percepatan pembangunan ekonomi Negeri China yg amat mencengangkan selama dekade terakhir tidak pelak lagi meyakinkan dunia, bahwa dekade awal abad 21 akan menjadi milik China yg akan tumbuh menjadi negeri industri raksasa global yang akan melebihi atau setidaknya setara dengan kekayaan dua negara raksasa ekonomi global AS dan Jepang.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi per tahun rata-rata selalu berkisar 9 persen maka dalam dua dekade y.a.d menurut prakiraan ahli ekonomi PDB Negeri China akan menyamai atau melebihi kekayaan ekonomi Jepang. Nominal PDB China 2004 sebesar AS $ 1.745 miliar akan berlipat ganda menjadi AS $ 5 trilyun.

Konsumsi energi China tumbuh 4.3 persen pada tahun 2005 dan diperkirakan angka pertumbuhan rata-rata adalah 5 selama beberapa dekade kedepan. Konsumsi BBM sendiri sebesar 14 persen pada tahun 2004.

Guna dapat terus menjamin kesinambungan momentum pertumbuhan ekonomi China sejak tumbuh pesat sejak medio 1990, maka negeri ini akan terpacu untuk menjadi pemangsa sumber daya alam yg amat intensif dalam lingkup global, termasuk didalamnya kebutuhan pembangkit tenaga listrik.

Kalangan analis pembangunan ekonomi dan ilmuwan lingkungan hidup dengan cermat mengamati situasi ini diimbuhi rasa kuatir mengingat pengalaman yang belum lama berlalu. Pada tahun 1990 ketika Negeri China akhirnya berketetapan untuk membangun proyek "Three Gorges Dam" di s.Yang Tze serta merta menimbulkan kontroversi pertentangan dari kalangan ilmuwan lingkungan hidup global. Mega proyek bendungan raksasa sepanjang hampir 2 km -atau 1/4 dari dimensi struktur buatan manusia yg terbesar sejagat: Tembok Besar China yg panjangnya 8 km- dianggap menimbulkan kerusakan lingkungan yg teramat parah.

Selain guna menata irigasi dan mengurangi hingga 90ingkat banjir sungai Yang Tze , pemerintah China membangun proyek bendungan "Bendung Tiga Ngarai" karena bermaksud mendayagunakan bendungan guna mencukupi 15ari kebutuhan listrik nasional. Dan selesainya proyek raksasa "Bendung Tiga Ngarai" pada tahun 2005 pun masih menyisakan kebutuhan energi listrik tersisa yg cukup besar: 85 persen.

Saat ini porsi sumber listrik energi dengan sumber batubara memiliki porsi sebesar: 64.524.5BM, dan 3.1 persen gas alam. Hanya 3 persen sumber daya listrik yg diperoleh dari sumber energi terbarukan / non-konvensional.

Kalangan analis lingkungan dunia mengkhawatirkan akan terjadinya bahaya degradasi kualitas lingkungan hidup besar-besaran di negeri China dan dampak negatif dalam skala global, apabila negeri itu terdesak untuk tetap mengandalkan pembakaran batubara sebagai sumber daya listrik utama. Rencana pemerintah guna membangun 20 PLTN dalam waktu dekat pun menimbulkan kekuatiran tersendiri.

Namun tidak segala langkah China bernilai minor, karena Pemerintah China setidaknya telah melangkah maju dengan segera memberlakukan U.U tentang Energi Terbarukan tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah ttg standard ketat penggunaan BBM untuk kendaraan mobil produksi terbaru. UU Energi Terbarukan secara tegas menggariskan target penggunaan energi angin dan tenaga surya sebagai basis sumber energi masa depan negeri itu. Diproyeksikan pada tahun 2020 energi berbasis sumber daya terbarukan akan mencapai: 10 persen kebutuhan nasional.

Dari kedua sisi gelap-terang upaya dan kebijakan yg dilakukan Pemerintah China maka Indonesia pantas menilik pelajaran yang amat berharga guna diterapkan terutama dalam hal menata perencanaan infrastruktur energi nasional yang berperan amat vital dalam melandasi kesinambungan pembangunan ekonomi guna mencapai cita-cita kemakmuran bangsa.

Sumber : IPTEKnet

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 28 Mei 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI