energi lihat situs sponsor
 
Kamis, 19 Juli 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Membantu Pengurangan Biaya Operasional Nelayan : Menghemat BBM dengan Rekayasa Fisika Molekul
dik/PR

SETIAP mesin bakar memerlukan bahan bakar minyak (BBM). BBM yang dihasilkan dari fosil memiliki keterbatasan jumlah produksi. Repotnya lagi, pengurangan dan penghapusan subsidi BBM membuat terjadinya kenaikan harga BBM, entah bensin (premium, pertamax, dan pertamax plus), ataupun solar yang banyak dikonsumsi masyarakat dan industri.

Dengan pemakaian yang relatif tetap, besaran pengeluaran dana pembelian BBM meningkat pula sejalan dengan kenaikan harga BBM. Maka, upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan penghematan pemakaian BBM. Langkah lain adalah meningkatkan efisiensi penggunaan BBM. Jangan sampai ada BBM yang terbuang atau lolos dari ruang silinder tanpa terbakar sempurna.

Upaya meningkatkan efisiensi proses pembakaran dalam ruang bakar mesin baik bensin ataupun diesel dilakukan melalui berbagai cara. Mesin-mesin terkini juga dilengkapi peralatan elektronik yang mengatur atau menyesuaikan jumlah pasokan bahan bakar dengan putaran mesin (RPM) atau beban kerjanya.

Ada pula upaya untuk memanaskan BBM sebelum masuk ruang bakar mesin agar cairan BBM berubah menjadi uap. Dengan menguapkan BBM berarti memperhalus butiran BBM dan memudahkan proses pembakaran, dengan demikian uap BBM akan terbakar seluruhnya.

Seperti alat buatan salah satu bengkel kerja di Lingkungan Industri Kecil (LIK) Jawa Barat di bilangan By Pass sekitar Gedebage, Bandung. Alat ciptaan Ir. E. Irawadi Ramadhan yang dinamai Electronics Gas Booster (EGB) merupakan produk teknologi terapan temuan inovasi yang mengandalkan bahan-bahan dari dalam negeri. Hanya satu komponen yang masih diimpor, yaitu chip.

Alat tersebut dipasangkan pada saluran pasokan BBM menuju karburator atau pompa injeksi mesin bakar dalam. Dengan adanya alat tambahan tersebut, pembakaran BBM dalam ruang bakar atau silinder berlangsung lebih efisien, sekaligus menghemat pemakaian BBM.

Uji coba dilakukan pada berbagai mesin, terutama mesin diesel semacam kapal nelayan, hingga generator (genset) di sejumlah hotel dan pabrik di sekitar Bandung dan Jakarta, termasuk mesin-mesin burner atau mesin boiler di hotel dan pabrik.

Sejumlah hotel, rumah sakit, dan pabrik di Bandung dan sekitarnya yang melakukan uji coba EGB pada mesin burner/boiler menunjukkan efisiensi penggunaan BBM solar. Kisaran penghematan BBM bervariasi antara 12,03ingga 23,1Umumnya pada kisaran belasan persen penghematan BBM.

Selain pemakaian BBM lebih hemat, nosel burner lebih bersih, asap tidak pekat, bunyi lebih halus, saringan oli tidak cepat kotor, dan kenaikan suhu dalam boiler relatif lebih cepat. Yang jelas kondisi tersebut sangat ditentukan baik oleh faktor mesin maupun pengoperasian mesin serta parameter pengukuran.

Prinsip kerja EGB adalah merekayasa reaksi fisika terhadap perlakuan molekul kimia bahan bakar. Dengan demikian, struktur molekul berbagai jenis bahan bakar, baik bensin ataupun solar akan menjadi lebih reaktif. Reaktivitas BBM dilakukan dengan cara menambah kecepatan perputaran elektron kimia bahan bakar, pemanasan dan ionisasi serta vibrasi. Pada akhirnya kinerja mesin meningkat, serta menurunkan kadar emisi gas buang. Keempat prinsip kerja pada EGB memproses bahan bakar menjadi berkualitas tinggi, sehingga proses pembakaran pada mesin akan menjadi lebih baik/sempurna.

Menurut Ir. Endjat Sudrajat Dudy dari PT Diwata Mineral Resources (DMR) yang melakukan kerja sama dalam pengembangan EGB dengan sang penemu sejak tahun 2004, pemanasan BBM dimaksudkan merenggangkan ikatan molekul BBM, lalu diikuti injeksi elektron menggunakan fluksi magnet. Penambahan elektron pada molekul bahan bakar menyebabkan ketidakstabilan elektron BBM dan mencoba mencari keseimbangan kembali. Dalam kondisi semacam itu, uap BBM mudah digetarkan (vibrasi) dengan perlakuan induksi magnet. Jadi ketika BBM memasuki karburator atau saluran injeksi bahan bakar dalam kondisi "lebih siap" bakar.

Spesifik mesin

Jika penggunaan EGB pada kendaraan relatif dengan spesifikasi alat yang sama, maka penggunaan EGB pada mesin-mesin industri semacam boiler ataupun generator (genset) merupakan pembuatan yang spesifik. "Istilahnya tailor made. Peranti yang dibuat disesuaikan dengan karakterisitik mesin," kata Endjat.

Disebutkannya, dalam hal penciptaan EGB selalu didasari atas beberapa tahapan. Dengan demikian setiap produk EGB menjadi spesifik dan khusus penggunaannya sesuai dengan karakteristik dan spesifikasi masing-masing mesin. Tahapan tersebut adalah penelitian awal mesin yang akan menggunakan EGB meliputi tahun pembuatan, spesifikasi teknik, konsumsi BBM, dan spesifikasi operasional, lalu dilakukan rancang bangun alat uji coba yang dilanjutkan dengan pemasangan dan pelaksanaan uji coba untuk berbagai beban kerja mesin dan kondisi lingkungan.

Setelah itu dilakukan penentuan parameter pengukuran keberhasilan untuk melakukan analisis hasil uji coba. "Jika uji coba memberikan hasil baik, maka dilanjutkan dengan penentuan desain EGB yang akan diterapkan," kata Endjat.

Semacam penggunaan EGB untuk kapal-kapal nelayan akan berlainan meskipun ukuran kapal sama-sama 30 gross ton (GT). Setiap kapal nelayan berukuran 30 GT menggunakan mesin diesel yang berlainan. Ada kapal yang memanfaatkan mesin diesel untuk truk, adapula yang menggunakan mesin diesel untuk generator, ada juga kapal yang memang menggunakan diesel khusus untuk perahu. "Jadi meski sama-sama berukuran 30 GT, tetap pembuatan EGB disesuaikan dengan mesin yang digunakan, karakteristik dan operasionalnya," ujar Ismet Agusdin dari PT DMR . Selain itu, wadah yang digunakan untuk melindungi komponen EGB disesuaikan dengan kondisi lautan yang korosif.

Jika saja alat EGB mengalami gangguan, pasokan bahan bakar tetap berjalan. Hal itu dimungkinkan karena alat tambahan tersebut memiliki pipa yang tetap dilalui aliran BBM, sementara perlakuan keempat prinsip kerja alat berada di luar pipa.

Sumber : Pikiran Rakyat (14 April 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 8 Mei 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI