energi lihat situs sponsor
 
Senin, 19 November 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Mercedes F-Cell Solusi Ramah Lingkungan
Jonggi/E-3

Kekhawatiran akan bahaya polusi dari asap buangan yang dikeluarkan kendaraan bermotor sudah tidak akan menjadi masalah. Rasa cinta terhadap kelestarian lingkungan sudah semakin menguat dan menjadi inspirasi para pencipta mobil masa depan.

Para insinyur memeras otak untuk menghadirkan sebuah kendaraan yang ramah lingkungan. Hasilnya, sebuah mobil masa depan yang berbahan bakar hidrogen dan tidak menghasilkan polusi sama sekali.

DaimlerChrysler sebagai salah satu perusahaan terkemuka pembuat mobil bermerek Mercedes-Benz telah menciptakan mobil bertenaga hidrogen. Mobil yang diberi nama F-Cell itu diciptakan untuk mereduksi tingkat polusi yang disebabkan asap buangan kendaraan bermotor hingga ke titik nol.

Caranya, dengan menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar yang direaksikan dengan oksigen. Hasil reaksi tersebut tidak menghasilkan asap buangan yang akan menjadi polusi seperti yang terlihat pada knalpot mobil ataupun motor.

DaimlerChrysler berhasil melakukan reaksi elektro kimiawi untuk menghasilkan energi berbentuk energi panas dan listrik. Selain menghasilkan energi, reaksi kedua zat tersebut juga akan menghasilkan air murni (H2O) sebagai residu dan bukan asap seperti kendaraan konvensional pada umumnya. Bisa dibayangkan bagaimana bersihnya udara kota yang selalu dipadati kendaraan jika semuanya menggunakan F-Cell.

Selanjutnya, energi hasil reaksi itu dipakai untuk menggerakkan mekanik mobil dengan menggunakan motor listrik. Saat ini, DaimlerChrysler sedang mengembangkan metode penyimpanan bahan bakar hidrogen yang berbentuk gas yang dikompreskan. Biasanya, wujud hidrogen yang mudah dipakai untuk reaksi tersebut adalah dalam bentuk gas yang dikompreskan atau hidrogen cair yang didinginkan hingga mencapai suhu minus 254 derajat Celcius.

Seperti diketahui, baik hidrogen maupun oksigen adalah dua zat yang melapisi bumi dalam jumlah yang tak terhingga. Artinya, kendaraan yang berbahan bakar hidrogen dan oksigen tidak akan pernah kehabisan bahan bakar karena alam menyediakan suplainya dalam jumlah yang terhingga. Keistimewaan lain dari mobil F-Cell ini adalah reaksi pemrosesan bahan bakarnya sangat efisien dan tidak menghasilkan polusi suara.

F-Cell yang saat ini sedang diuji coba adalah model Mercedes Benz A Class. Mobil ini memiliki panjang 3.785 mm, lebar 1.720 mm, dan tinggi 1.610 mm. Bahan bakar yang digunakan adalah hidrogen yang dikompreskan pada tekanan 350 bar. Konsumsi bahan bakarnya 3,8 hingga 4,2 liter untuk tiap 100 km.

Sementara, kecepatan maksimum yang dapat dicapai 140 km per jam. F-Cell dapat mencapai kecepatan dari 0 sampai 100 km per jam hanya dalam waktu 14 detik. Media mendapat kesempatan menjajal F-Cell di Singapura belum lama ini. Meski hanya mengelilingi kawasan Hotel Conrad di Singapura, akselerasi F-Cell sama sekali tidak berbeda dengan kendaraan yang berbahan bakar konvensional.

Sejak dulu

Pemikiran untuk mengembangkan mobil F-Cell sudah dimulai pada era tahun 1990-an. Saat itu DaimlerChrysler sudah mulai aktif mengembangkan teknologi F-Cell sebagai salah satu alternatif penggerak mekanik mobil.

Pada tahun 1994, diproduksi mobil F-Cell pertama yang diberi nama Necar (New Electric Car) 1. Mobil F-Cell pertama ini mulai diperkenalkan kepada publik pada tanggal 13 April 1994. Kemudian disusul Necar 2 (1996), Nebus (1997), Necar 3 (1997), Necar 4 (1999), Necar 5 (2000), Jeep R Commander 2 (2000), Hermes Sprinter (2001), Natrium (2001), The Citaro city bus (2002), dan terakhir The Mercedes Benz A Class "F-Cell" (2002).

Dengan berbagai macam konsep mobil yang ada, DaimlerChrysler berhasil menciptakan mobil yang sangat efisien dan sangat ramah lingkungan.

Saat ini, mobil berbahan bakar hidrogen ini sudah diuji coba di empat negara, yaitu Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura.

Asia Tenggara mendapat kehormatan sebagai salah satu kawasan untuk uji coba kendaraan mutakhir tersebut. DaimlerChrysler untuk kawasan Asia Tenggara bekerja sama dengan salah satu rekannya di Singapura, Biro Pelestarian Lingkungan Singapura (National Environment Agency/NEA), melakukan uji coba F-Cell untuk kawasan tropis.

NEA adalah sebuah instansi yang berada di bawah Kementerian Lingkungan Singapura (Ministry of the Environment) yang diberi tugas untuk melaksanakan kebijakan pelestarian lingkungan di Singapura. Sebagai salah satu rekanan DaimlerChrysler dalam F-Cell Global Programme Partnership, NEA telah melakukan uji coba penggunaan Mercedes Benz F-Cell A Class selama dua tahun.

Selain NEA, DaimlerChrysler juga menjalin kerja sama dengan empat rekanan lainnya, yaitu British Petroleum (BP) Singapore Pte Ltd, Conrad Centennial Singapore, Michelin, dan Lufthansa German Airlines.

Mengenai pemasarannya, ternyata Daimler tidak ingin buru-buru menjual produk barunya itu. Mobil ini baru akan dilempar ke pasar sekitar sepuluh tahun yang akan datang.

Mengapa begitu lama" Menurut Direktur Pengembangan Teknologi F-Cell, Andreas Truckenbrodt, teknisi-teknisi DaimlerChrysler akan terus menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang didapat selama uji coba sebelum dilempar ke pasar. Sebagai salah satu contoh, dari lima mobil yang ada diuji coba di Singapura, akan direkam data dari pemakaiannya untuk dilakukan evaluasi terus-menerus.

Mengenai harga per unitnya, Truckenbrodt mengatakan saat ini belum dapat memberikan harga pastinya. Namun ia memperkirakan harga per unit F-Cell akan jauh lebih mahal daripada produk DaimlerChrysler lainnya. Ini disebabkan biaya yang dikeluarkan untuk menciptakan dan menyempurnakan teknologinya sangat tinggi.

Sayangnya, hingga kini Indonesia belum masuk dalam daftar tempat uji coba kendaraan mutakhir ini. Truckenbrodt mengatakan, ke depan F-Cell memang akan dipasarkan ke semua negara, namun hingga kini proses uji cobanya masih di empat negara tersebut.

Sumber : Media Indonesia (7 Agustus 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 1 Januari 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI