energi lihat situs sponsor
 
Jumat, 21 September 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

PLTN Layak Dioperasikan 2015 untuk Kepentingan Teknologi dan Ekonomi
CR-37/V-4

JAKARTA (Media): Indonesia sudah saatnya memerlukan tambahan energi, sebab itu pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) secara teknologi dan ekonomi layak dioperasikan pada 2015.

Demikian dikatakan Sekretaris Menteri Riset dan Teknologi Ashwin Sasongko pada Seminar Pengawasan Pemanfaatan Tenaga Nuklir bertema Keselamatan, keamanan, dan kedamaian nuklir, kemarin di Jakarta.

Yang penting, kata Ashwin, adalah pengawasan terhadap penggunaan tenaga nuklir yang menyangkut tiga issue penting, yaitu kemungkinan dibangunnya PLTN di Indonesia, peningkatan keselamatan nuklir, dan persoalan terorisme yang dikhawatirkan memanfaatkan efek negatif bahan nuklir.

Menurut Ashwin, Indonesia sudah menandatangani persetujuan internasional untuk penggunaan nuklir dengan tujuan damai. Beberapa unit di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mengembangkan reaktor untuk PLTN. "Indonesia sudah memerlukan tambahan sumber energi, sebab itu PLTN secara teknologi dan ekonomi layak dioperasikan pada 2015. Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) telah bekerja sama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA), maka sebelum 2010 harus mulai dibangun PLTN yang diperkirakan memerlukan waktu pembangunan selama 4-5 tahun," kata Ashwin.

Rencananya, lanjutnya, pembangunan PLTN berlokasi di Muria, dekat Jepara dan Madura. PLTN yang akan dibangun di Madura berkapasitas sebesar 100 MW, namun Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) harus mengawasi regulasi, perundang-undangan, dan tenaga ahlinya.

"Enam prioritas utama nasional riset dan teknologi adalah pangan, bioteknologi, energi, kelautan, kebumian, dan kedirgantaraan, manufaktur dan teknologi informasi, namun prioritas utama difokuskan pada pangan dan energi. Tetapi karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai nuklir, sehingga banyak anggapan bahwa nuklir identik dengan bom. Maka pada 2004 sudah mulai dilakukan sosialisasi masalah nuklir pada seluruh kalangan, bahkan pada pelajar tingkat SLTP dan SMU," jelas Ashwin.

Sementara itu, Deputi Kepala Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir Bapeten, As Natio Lasman mengatakan, sampai saat ini telah terdapat 80 inspektorat dari dalam negeri untuk menangani masalah nuklir. Namun, untuk PLTN masih diperlukan tambahan tenaga ahli.

Bapeten, katanya, dalam rencana pembangunan PLTN sangat memperhatikan ketertiban dan pengawasan pembuangan nuklir. "Limbah nuklir harus ditangani khusus agar tidak mengontaminasi lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya. Untuk pembangunan PLTN akan digunakan teknologi yang telah diuji, kita tidak akan memakai teknologi coba-coba," ujar As Natio.

Sumber : Media Indonesia (29 Desember 2003)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 1 Januari 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI