energi lihat situs sponsor
 
Jumat, 21 September 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Bahan Bakar Alternatif Perlu Terus Dikembangkan
YD/V-2

JAKARTA (Media): Pemerintah diminta untuk menyusun sebuah kebijakan yang memberi dukungan serta insentif bagi pengembangan bahan bakar alternatif dan ramah lingkungan. Hal itu terkait dengan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan bertambahnya pencemaran akibat emisi kendaraan bermotor.

Kemampuan dalam menciptakan bahan bakar renewable--bersifat dapat diperbaharui--sebenarnya dapat dicukupi dari berlimpahnya kekayaan hayati domestik. Demikian ditekankan Menteri Riset dan Teknologi Hatta Radjasa saat uji coba penggunaan bahan bakar biodiesel di lingkungan Kantor Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek), kemarin.

Permasalahan energi, sambung Hatta, merupakan isu strategis masa mendatang, selain persoalan kebutuhan pangan dan ketersediaan air bersih. Pasokan energi di kemudian hari, lanjutnya, terkonsentrasi pada energi yang sustainable (berkelanjutan). "Indikatornya adalah keterjangkauan publik, teruji secara teknologi, dan ramah lingkungan," tuturnya.

Implementasi pemakaian bahan baku alternatif, ujarnya, seperti biodiesel sebagai pengganti bahan bakar solar yang berasal dari minyak nabati, sangat bergantung dari konsistensi semua pemangku kebijakan. "Banyak keuntungan yang didapat, termasuk mengurangi ketergantungan atas bahan bakar fosil," ungkap Menristek.

Sampai saat ini, total kebutuhan minyak solar dalam negeri mencapai 16 juta kiloliter per tahun, berarti bila digunakan biodiesel dalam campuran B10 (10 persen biodiesel/90 persen minyak solar) dapat dihemat sekitar 1,6 juta kiloliter. "Tentunya hal ini patut didukung dengan kebijakan pemerintah yang menstimulasi peran swasta," paparnya.

Beberapa keuntungan lain, sambung Hatta, berkurangnya konsumsi energi fosil, berkontribusi pada pengurangan emisi gas buang yang dapat menimbulkan efek gas rumah kaca. Juga, keberadaan biodiesel dapat menjadi jaminan kepastian akan keamanan suplai energi. "Perlu dan harus terus dikembangkan agar kompetitif," jelasnya.

Sasaran pemakaian bahan bakar yang ecofriendly--ramah terhadap lingkungan--, katanya, terutama sarana transportasi umum yang dikelola pemerintah dan dimulai dari lingkup instansi kepemerintahan. "Produksi skala mikro berkapasitas 8 ton/hari telah dibuat di Provinsi Riau dan akan dikembangkan secara komersial," ucapnya.

Bahan baku yang dapat dikembangkan sebagai sumber pembuatan biodiesel, terusnya, antara lain minyak jarak pagar, minyak sawit, minyak kedelai, minyak kelapa, dan minyak kapuk. Potensi hayati itu, sambungnya, telah melimpah di dalam negeri. Bahkan berdasar data tahun 2002, Indonesia mampu menghasilkan 9 juta ton per tahun minyak sawit.

Meski belum mencapai harga ekonomis karena mahalnya bahan baku, Hatta optimistis bila kesadaran ekologi dan pemenuhan suplai energi renewable berkembang, maka biodiesel menjadi sebuah pilihan alternatif potensial.

Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Emisi Kendaraan Bermotor KLH Ridwan D Tamin mengatakan, usaha pengenalan dan sosialisasi bahan bakar alternatif ramah lingkungan mendukung program langit biru.

Sumber : Media Indonesia (20 September 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 2 Januari 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI