energi lihat situs sponsor
 
Rabu, 18 Juli 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Teknologi Hemat Energi Mutlak bagi Industri Baja
N-3

JAKARTA - Penggunaan teknologi hemat energi merupakan kebutuhan mutlak bagi industri baja. Hal ini sangat penting karena kompo- nen energi memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi keseluruhan biaya produksi. Di sisi lain, dengan melakukan penghematan energi akan membuat industri baja mampu bersaing di pasar global.

Ketua South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI), Kil Won Cho, di sela-sela workshop penggunaan teknologi hemat energi di industri baja, belum lama ini , mengatakan, tren industri baja dunia saat ini adalah menggunakan teknologi hemat energi guna menekan biaya produksi sekaligus membuat industri yang bersangkutan mampu bersaing di pasar internasional.

Ia menjelaskan, hampir semua industri baja di dunia yang tidak memiliki sumber daya energi yang cukup besar seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan telah menggunakan teknologi hemat energi guna menekan biaya produksi mereka.

Langkah tersebut dinilainya cukup positif, dan sudah seharusnya diterapkan oleh semua industri baja di dunia termasuk di Indonesia.

Cho berpendapat, sekalipun Indonesia memiliki sumber daya energi gas yang cukup besar, namun industri baja nasional perlu pula menerapkan teknologi hemat energi. Ia mengakui, tidak mengetahui persis teknologi produksi yang digunakan industri baja nasional. Namun demikian Cho berpendapat, teknologi yang digunakan industri baja nasional tidak ketinggalan dengan negara lain di kawasan Asia.

18 Persen

Sementara itu, Wakil Ketua SEAISI, Nurhudin mengatakan, penggunaan energi baik listrik maupun gas untuk industri baja di Indonesia menyerap sekitar 18 persen dari komponen biaya produksi. Angka tersebut menurutnya cukup besar. Karena itu, perlu dicarikan teknologi hemat energi yang bisa diterapkan sehingga mampu menekan biaya produksi.

Nurhudin menjelaskan, untuk memperbarui teknologi produksi tersebut diperlukan investasi yang cukup besar. Dana yang dikeluarkan, katanya, hampir sama dengan membangun sebuah pabrik baru, yakni sekitar US$ 250 juta. Hal ini terjadi karena pembaruan teknologi ini harus pula mengikutsertakan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan mengoperasikan teknologi itu.

Biasanya, kata Nurhudin, industri baja nasional seperti Krakatau Steel lebih memilih melakukan rekayasa teknologi yang dilakukan sendiri oleh SDM-nya. "Biasanya kita mendapatkan masukan dari workshop seperti ini, kemudian kita melakukan modifikasi sendiri. Biayanya jauh lebih murah," paparnya.

Sumber : Suara Pembaruan (19 September 2003)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 1 Januari 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI