energi lihat situs sponsor
 
Senin, 19 November 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Energi Hijau tidak Bisa Ditunda Lagi
MD/V-2

JAKARTA (Media): Pemanfaatan energi hijau atau energi terbarukan harus mulai digalakkan dan tidak bisa ditunda lagi, guna menghindari bencana kekurangan energi akibat habisnya cadangan minyak Indonesia.

Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luluk Sumiarso menyatakan hal tersebut di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Luluk, cadangan energi fosil (minyak bumi) di Indonesia semakin menipis dan diperkirakan akan habis dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. "Untuk menghindari krisis energi, pemanfaatan energi alternatif seperti energi hijau harus betul-betul dikembangkan," tegasnya.

Untuk mengembangkan energi hijau, lanjut Luluk, Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi telah menempuh sejumlah langkah penyusunan konsep kebijakan energi terbarukan dan konservasi energi. Salah satu konsep yang kini tengah dijalankan adalah program peduli energi hijau.

"Melalui kegiatan ini masyarakat diharapkan akan lebih paham tentang pentingnya pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi, sehingga secara sadar mau menerapkan dalam kehidupan sehari-hari," tambah Luluk.

Menurut Luluk, pemanfaatan energi hijau selama ini mengalami sejumlah hambatan di antaranya biaya investasi yang masih mahal, harga energi yang dihasilkan belum dapat bersaing dengan harga energi minyak bumi, dan belum dikenal masyarakat luas.

"Untuk mengatasi hambatan tersebut diperlukan koordinasi semua pihak terkait dan sosialisasi yang intensif, sehingga masyarakat luas secara sadar mau memanfaatkan energi terbarukan dan menerapkan pola hidup hemat energi," tegasnya.

Lebih lanjut, Luluk menyatakan potensi energi hijau cukup besar seperti pemanfaatan panas bumi, energi surya, energi air, energi angin, dan energi gelombang samudra.

Sementara itu, anggota Tim Sosialisasi Energi Hijau Hasbi Armia menyatakan pentingnya dilakukan penghematan energi untuk menghadapi semakin menipisnya cadangan minyak.

"Potensi penghematan energi sangat besar. Untuk sektor rumah tangga dan komersial potensi penghematan mencapai 20 persen, sektor industri 15-30 persen, dan sektor transportasi 25 persen," katanya.

Menurut Hasbi, jika dinilai secara ekonomi terdapat sekitar Rp32 triliun per tahun jika penghematan energi dilakukan. "Jadi selama ini sekitar Rp32 triliun per tahun yang terbuang percuma akibat perilaku boros energi di Indonesia."

Hasbi menyatakan perilaku boros energi yang selama ini dilakukan seperti menghidupkan lampu listrik pada saat tidak dibutuhkan. Selain itu, masyarakat juga masih banyak yang menggunakan lampu pijar yang boros energi. Padahal, lampu hemat energi sudah banyak dipasarkan di daerah-daerah Indonesia.

"Jika 5 persen saja pengguna listrik di Indonesia menggunakan lampu hemat energi, akan ada 116 megawatt listrik yang bisa dihemat atau setara dengan kebutuhan listrik masyarakat Depok, Jawa Barat," tutur Hasbi.

Perilaku boros energi juga banyak dilakukan oleh sektor transportasi dan industri. Sektor transportasi seperti tidak disiplinnya pengendara kendaraan bermotor sehingga memicu kemacetan yang membuat boros pemakaian bahan bakar.

Di sektor industri, masih sedikit sekali industri yang menggunakan teknologi hemat energi untuk kepentingan operasionalnya. "Untuk merangsang industri menerapkan perilaku hemat energi, pemerintah bisa memberikan insentif keringanan biaya masuk bagi teknologi hemat energi," papar Hasbi.

Krisis energi di Indonesia memang sudah cukup memprihatinkan. Buktinya, kini perusahaan listrik milik negara terpaksa menggilir penggunaan listrik di beberapa daerah.

Pemerintah sebenarnya telah berusaha menanggulangi krisis energi ini dengan mencari energi alternatif. Di antaranya, pemanfaatan air dengan membangun pusat-pusat listrik tenaga air (PLTA) dan tenaga surya di beberapa daerah di Indonesia.

Sumber : Media Indonesia (2 Juni 2003)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 1 Januari 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI