energi lihat situs sponsor
 
Rabu, 18 Juli 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Atasi Krisis Energi 2025 : Indonesia Butuh Tenaga Nuklir
Drd/V-2

JAKARTA (Media): Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) menilai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia sudah mendesak untuk mengatasi kekurangan energi pada 2025.

Sementara itu, guna mengatasi kekhawatiran risiko buruk terhadap lingkungan, Batan akan membangun PLTN dengan teknologi pressurized water reactor (PWR).

Kepala Pusat Pengembangan Energi Nuklir Batan Arnold Y Soetrisnanto mengatakan hal itu di Jakarta, pekan lalu. "Lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang antinuklir seperti Walhi, MANI (Masyarakat Anti Nuklir Indonesia) memang sedikit saya sesalkan. Batan seharusnya menjadi teman," katanya menanggapi masih adanya kelompok yang menolak pembangunan PLTN.

Sejumlah aktivis lingkungan telah mengungkapkan penolakan terhadap rencana pembangunan PLTN. Padahal PLTN yang dibangun bukanlah yang pertama kali. Arnold mengatakan, Indonesia telah memiliki tiga reaktor atau PLTN, yaitu di Bandung, Yogyakarta, dan Serpong. Bahkan di reaktor Bandung yang menghasilkan energi 9 megawatt, telah dibangun sejak 1964.

Arnold memberi alasan kenapa PLTN harus segara direalisasikan pada 2025. Batan telah mengkaji kebutuhan energi bagi masyarakat. Jika melihat komposisi energi untuk 20-25 tahun mendatang maka harus diantisipasi menghadapi kebutuhan energi.

Populasi penduduk Indonesia mengalami pertumbuhan tinggi, yaitu masih di atas 1 persen per tahunnya. Sedangkan pertumbuhan ekonominya bisa meningkat antara 5 persen-6 persen. Arnold menegaskan bahwa pertumbuhan populasi dan ekonomi jelas akan membutuhkan energi lebih banyak.

"Berdasarkan hasil studi untuk tahun 2025 di Indonesia setelah dihitung batu bara, gas, dan sumber lain, kebutuhan energi listrik akan meningkat tahun 2000 sebanyak 29 gigawatt, tahun 2025 akan meningkat 100 gigawatt," kata Arnold.

Sekarang kebutuhan energi sebesar 29 gigawatt dan 20 tahun mendatang kebutuhannya menjadi 100 gigawatt. Artinya, kebutuhan energi meningkat tiga kali lipat. "Ini dari mana sumber energinya" Apakah cukup batu bara, gas, minyak bumi" Bahkan Indonesia telah menjadi importir minyak bumi," jelas Arnold.

Karena itu, dia berpendapat perlunya memberdayakan sumber-sumber energi yang mungkin dan diusulkan adalah nuklir. Itu pun mulai bisa dirasakan hasilnya baru 2015. Jika rencana PLTN berjalan maka pada 2025 baru menyumbang 5 persen dari 100 gigawatt. Bahkan, dunia telah menggunakan sumber listrik nuklir 20 persen. Gas malahan hanya 15-16 persen.

"Ini kontribusi Batan, jangan sampai rakyat Indonesia itu mendengar kajian-kajian luar yang tidak benar. Ini kajian Batan yang berdasarkan data-data Biro Pusat Statistik (BPS). Kita enggak kerja sendiri, tetapi menjalin kerja sama dengan BPS, BPPT, Bappenas yang merupakan comprehensive planning jangka panjang," katanya.

Untuk menjawab kekhawatiran masyarakat, kata Arnold, Batan telah memilih teknologi yang tingkat keselamatannya tinggi. Tipe reaktor yang rencananya digunakan adalah PWR yang telah diterapkan di Amerika Serikat, Jepang, Korea, serta China. Sebenarnya ada tipe lain, yaitu BWR (boiling water reactor) dan PHWR (pressurize heavy water reactor).

"Bukti nyata pengoperasian sejak tahun 1950, di Jepang, Amerika, dan Korea, serta Eropa tingkat keamanan sangat tinggi dan tidak ada kecelakaan fatal," kata Arnold.

Dari sisi limbah, rencana pembangunan reaktor nuklir telah menjadi alasan penolakan kalangan yang tidak setuju. Arnold mengatakan Batan telah mengkaji penerapan dari sejak dioperasikan di reaktor sampai pengelolaan. Kini ada teknologi yang meningkatkan burn up (pembakaran), sehingga dengan tingkat pembakaran lebih besar hasil limbah nuklirnya kecil.

Dengan asumsi 1.000 megawatt dari reaktor yang dioperasikan selama 40 tahun, limbahnya itu hanya sebesar lapangan tenis. Penampungan limbah itu bentuknya seperti kolam berupa dried cell atau sel-sel penyimpanan kering. "Selama 40 tahun tak perlu mengolah limbah. Bahkan Amerika telah menggunakan penyimpanan limbah lestari. Limbah itu disimpan di bawah lorong sedalam 500 m, yang dapat menyimpan limbah 100-200 tahun," jelasnya.

Sumber : Media Indonesia (19 April 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 1 Januari 2005

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI