energi lihat situs sponsor
 
Jumat, 21 September 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Gas... Kami Butuh Gas...
Febry Mahimza, Budi Supriyantoro, Dikky Setiawan dan Simon Siagian (Trust)

Lantaran mengutamakan pasar ekspor, pasokan gas dalam negeri jadi tersendat. Akibatnya, ratusan industri dalam negeri terancam tak bisa beroperasi dengan normal.

Bisnis tak mengenal nasionalisme. Agaknya hal itu jualah yang terjadi pada bisnis gas kita. Kendati dikenal sebagai negara eksportir gas terbesar di dunia, toh pasokan untuk dalam negeri tak bisa dilayani secara maksimal. Ujung-ujungnya, pasokan bagi konsumen lokal pun tersendat-sendat. Betul, selama ini pasokan dari Pertamina dan sejumlah kontraktor production sharing (KPS) kadang berlebihan. Namun jangan salah, yang lebih sering terjadi adalah kondisi sebaliknya.

Padahal, kebutuhan gas dalam negeri juga tak kalah besarnya dengan yang dikonsumsi luar negeri. Pupuk, keramik, dan kertas merupakan industri yang sangat menggantungkan hidupnya pada pasokan gas. Setiap tahun semua produsen pupuk di negeri ini membutuhkan sekitar 800 kaki kubik per hari atau million metric standard cubic feet per day (MMSCFD). Itu pun, menurut Zaenal Soedjais, Ketua Umum Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia, sebenarnya masih belum menutupi kebutuhan riil industri pupuk. Sebab, produsen gas selalu menyunat pengiriman gasnya untuk industri ini.

Makanya Zaenal tak habis pikir dengan tidak konsistennya produsen gas. Padahal, "Kebutuhan gas industri pupuk hanya sekitar 7 persen dari semua produksi gas nasional," ujar Zaenal yang juga Direktur Utama PT Pupuk Sriwijaya.

Dampaknya, sejumlah industri yang menjadi konsumen utama energi ini menjadi korban. Lihat saja, sudah sejak tahun lalu sejumlah produsen yang sangat bergantung pada pasokan gas terpaksa beroperasi dalam kondisi ketidakpastian. Sebut saja dua industri pupuk di Aceh, PT Pupuk Iskandar Muda I dan PT Asean Aceh Fertilizer. Oktober tahun lalu keduanya sempat menghentikan produksinya lantaran tidak mendapat pasokan gas dari PT Arun Natural Gas Liquefaction.

PT Pupuk Sriwijaya dan PT Pupuk Kaltim tak kalah merananya. Pasokan gas bagi produsen pupuk dari Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur ini dalam beberapa tahun terakhir berkurang 10 persen. PT Pupuk Sriwijaya hanya kebagian sebesar 225 MMSCFD dan PT Pupuk Kaltim mendapat 270 MMSCFD. Sementara itu untuk PT Petrokimia Gresik dan PT Pupuk Iskandar Muda I masing-masing hanya dipasok sekitar 80 persen dari jatah seharusnya sebesar 50 MMSCFD per tahun.

Akibatnya, menurut Alita Ilyas, Direktur Produksi PT Asean, saat itu perusahaannya harus menanggung beban kerugian sebesar US$ 1,5 juta. "Itu baru kerugian uang tunai. Jika dihitung dengan hilangnya opportunity income, jumlahnya membengkak menjadi US$ 3 juta per bulan," ujarnya suatu ketika. Hal serupa juga dialami PT Petrokimia Gresik.

Produsen pupuk di Jawa Timur ini terpaksa gigit jari, lantaran sejak Februari kemarin tidak mendapat pasokan gas sesuai dengan kebutuhan, yakni sekitar 63 juta MMSCFD. Tentu saja hal itu berdampak terhadap tidak mampunya produsen ini memproduksi pupuk urea dengan kapasitas penuh yakni sebesar 475 ribu ton per tahun pada 2004. Hal itu terjadi karena pasokan gas yang diterima PT Petrokimia Gresik dari Beyond Petroleum (BP) Indonesia masih tetap kurang, bahkan diperkirakan akan semakin menyusut.

Kondisi tak kalah mengenaskan terjadi pula pada industri keramik. Pasalnya, industri ini memiliki tingkat ketergantungan pasokan gas yang sama tingginya dengan industri pupuk. Biaya konsumsi gas pada industri ini mencapai sekitar 30 persen dari total biaya produksi. Maklum, untuk menghasilkan keramik yang berkualitas tinggi, gas diperlukan sebagai bahan bakar utama dalam proses pembakaran. Sehingga, jika pasokan gas tidak konsisten, "Hasil akhirnya pun menjadi rusak dan tidak bisa dijual," ujar Zulfikar Lukman, Sekjen Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki).

Nah, lantaran sudah sejak 1 tahun 6 bulan yang lalu pasokan gas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) ke industri ini selalu berfluktuasi, hal itu mengakibatkan kualitas dan kuantitas produksi keramik dalam negeri kian melorot. Saat ini saja sudah ada dua produsen keramik yang terpaksa ditutup. Bahkan, produsen lantai keramik ternama, Essenza, juga terpaksa menyetop produksinya untuk sementara. Zulfikar menaksir, kerugian yang ditanggung produsen keramik mencapai 40 persen dari total produksi.

Tak hanya itu. Zulfikar juga menuding, kualitas gas yang dipasok PGN terhadap industri keramik jauh di bawah industri lainnya. Padahal, harga jual yang dikenakan kepada industri ini lebih mahal. Untuk industri pupuk dan besi harganya di bawah US$ 2 per metric British thermal unit (MBTU). Sedangkan untuk industri keramik, harganya baru dinaikkan dari US$ 2,5 menjadi US$ 2,8 per MBTU. "Ini tidak fair," katanya menegaskan. Jika hal ini berlarut-larut, tak menutup kemungkinan sekitar 60 produsen keramik lainnya menunggu giliran untuk menghentikan produksinya. Sekadar informasi, industri keramik termasuk salah satu konsumen terbesar PGN yang mampu menyerap sekitar 30 juta MBTU per tahun. Angka itu mencapai sekitar 40 persen dari total pasokan gas PGN.

Kondisi ini jelas sangat mengkhawatirkan. Sebab, baik Pertamina, PGN, maupun pemerintah hingga kini belum menemukan solusi jitu yang dapat menyelesaikan kemelut ini. Yang terjadi mereka malah saling menyalahkan. Itu seperti dalih yang dilontarkan Agus Dihardjo, Kepala Humas PGN. Menurutnya, pasokan gas yang sering berfluktuasi bukan kesalahan PGN semata. Sebab, selama ini PGN hanya berstatus sebagai distributor semata. Sehingga, "Ada-tidaknya pasokan gas itu sangat tergantung oleh produsennya, yaitu Pertamina dan para KPS," ujarnya enteng.

Intinya, Agus mau bilang, salah alamat jika produsen mengeluhkan rendahnya kualitas dan kuantitas pasokan gas tersebut kepada PGN. Ia melihat ada sejumlah faktor yang menyebabkan pasokan gas seolah tidak menentu. Antara lain, usia sumur gas yang ada saat ini tergolong tua. Rata-rata usia sumur tersebut berkisar 20 sampai 30 tahun. Konsekuensinya, produksi gas dari sumur tersebut sudah tidak optimal lagi.

Hal itu tidak dibantah oleh Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (BP Migas) Rachmat Sudibyo. Ia mengakui kekurangan pasokan gas di beberapa tempat, termasuk untuk industri di Jawa Timur, disebabkan menurunnya aktivitas produksi yang dilakukan Pertamina dan sejumlah KPS. Namun, untuk mengatasinya, ia menyatakan tahun lalu BP Migas sudah menandatangani 30 kontrak baru dengan sejumlah KPS. Total produksinya sendiri mencapai 1,2 miliar kaki kubik. Sayangnya, tidak ada jaminan pertengahan tahun ini sejumlah KPS itu bisa segera memasok gasnya ke konsumen.

Tak heran jika sejak tahun lalu dua pabrik kertas di Jawa Timur, PT Surya Agung Kertas (Surabaya) dan PT Kertas Leces (Probolinggo), memilih menghentikan penggunaan gas dan beralih ke solar. Selain menurunnya produksi, Zaenal juga mengeluhkan seringnya produsen gas berdalih minimnya pasokan gas lantaran jaringan pipa yang sering bocor dan rusak. Logikanya, hal tersebut merupakan tanggung jawab produsen gas dan PGN. Padahal, harga beli produsen pupuk untuk pasokan gasnya terbilang tinggi, berkisar US$ 1,65 hingga US$ 2,3 per million metric British thermal unit (MMBTU), tergantung jenis kontrak dan sumber gasnya.

Harga sebesar itu jika produsen mendapatkan gasnya langsung dari Pertamina atau KPS. Sementara itu jika melalui PGN, harganya bisa mencapai US$ 3,8-US$ 4 per MMBTU. Jauh lebih mahal memang. Namun, menurut Agus, hal itu karena PGN harus membeli gas dari Pertamina, BP Indonesia, dan PT Lapindo Brantas seharga US$ 2,6-US$ 3,0 per MMBTU. "Wajar dong kalau kami mengambil margin keuntungan," ujarnya menambahkan.

Nah, untuk mengantisipasi kelangkaan pasokan gas yang berlarut-larut, PGN tengah menjajaki kontrak baru dengan pemasok berbeda. Sebagai langkah awal, saat ini PGN sedang mengupayakan menambah pasokan gas untuk Jawa Barat sebesar 10 juta kaki kubik per hari. Selain itu, perusahaan ini juga tengah membangun pipa transmisi dari Sumatra Selatan ke Jawa Barat yang akan selesai tahun 2006. Semoga saja ini benar-benar merupakan solusi yang tepat bagi masalah pasokan gas dalam negeri.

Sumber : Trust (2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 13 Desember 2004

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI