energi lihat situs sponsor
 
Jumat, 21 September 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Percepat Infrastruktur untuk Mendongkrak Pemakaian Gas Bumi!
Hanan Nugroho (Bappenas)

Walaupun Indonesia termasuk termaju di dunia dalam pengembangan LNG (liquefied natural gas) untuk ekspor, namun pengembangan industri hilir gas bumi dalam negeri kita sangat terlambat. Gas dimanfaatkan untuk bahan bakar dan bahan baku industri. Kebutuhan menggunakan gas bumi di Tanah Air terus meningkat, datang dari berbagai sektor. Bagaimana mesti memenuhi kebutuhan gas dan mengembangkan industri hilir gas domestik?

Gas untuk substitusi/diversifikasi energi

Konsumsi energi kita tumbuh pesat 2-3 dekade terakhir, sekitar 5-7 persen/tahun. Karena konsumsi per kapita masih rendah dan pembangunan ekonomi terus dilakukan, konsumsi energi kita akan membesar. Ini perlu dipenuhi dari berbagai sumber.

BBM telah larut menjadi andalan konsumsi energi kita. Ketergantungan sangat tinggi pada BBM -yang difasilitasi subsidi- sebetulnya tidak sehat buat negeri yang dikaruniai beraneka sumber energi seperti Indonesia. Apalagi, kita punya gas dengan cadangan lebih besar (dan harga lebih murah) daripada minyak bumi. Sebagai bahan bakar, gas unggul karena kandungan panasnya tinggi dan pembakarannya bersih, disukai lingkungan. Potensi gas untuk menggantikan BBM di berbagai pemakaian sangat menjanjikan.

Di pembangkitan tenaga listrik misalnya, gas menawarkan biaya pembangunan murah dan jadwal lebih cepat dibandingkan alternatif pembangkit lain. Operasinya bersih dan murah, membuat pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) jadi favorit.

Bahan bakar gas (BBG) adalah alternatif substitusi BBM di sektor transportasi. Cocok buat kita yang masih mengandalkan bensin bertimbal (leaded gasoline). Substitusi BBG terhadap BBM dipraktekkan beberapa kota dunia.

Banyak industri dan services (hotel dan sebagainya) akan memilih gas bumi, bila bahan bakar itu disediakan sampai ke tempat mereka. Bagi industri pupuk dan petrokimia, gas bumi adalah bahan baku dan penunjang yang disukai.

Bila dapur-dapur rumah tangga kita telah mendapat gas yang dialirkan melalui pipa, besar kemungkinan gas yang akan dipilih daripada minyak tanah dan liquefied petroleum gas (LPG).

Pengembangan infrastruktur gas

Mengapa konsumsi gas nasional tidak berkembang? Kendalanya, infrastruktur yang terlalu sedikit. Pusat-pusat konsumsi energi kita berada di Jawa, sedang lokasi cadangan gas ada di pulau-pulau lain nan jauh. Mengirim gas dari sana dan untuk memakainya di Jawa butuh infrastruktur: pipa-pipa transmisi dan distribusi, kapal LNG/CNG, kilang mini LNG, terminal penerima, stasiun BBG, dll. Pembangunan infrastruktur gas ini cukup mahal.

Gas kita dulu (di Bontang, Arun) ditemukan dalam volume raksasa, cocok untuk diproses skala besar sebagai LNG. Namun permintaan di dalam negeri kala itu sangat kecil. Pembangunan rantai industri LNG dari produksi, pemrosesan, pengapalan dan pembuatan terminal penerima di negara tujuan itu terlalu mahal, tak mungkin kita tanggung. Mengekspor seluruh gas dulu bukan keputusan keliru.

Kini, permintaan gas di dalam negeri tumbuh pesat. Permintaan utama adalah pembangkit listrik, yang menggunakannya untuk bahan bakar melistriki Jawa. Permintaan dari sektor lain: industri, rumah tangga, dan transportasi juga tumbuh, dan akan meningkat bila semakin banyak gas berada dalam jangkauan mereka. Artinya, infrastruktur gas harus disediakan. Pengalaman banyak negara mengajarkan, begitu infrastrukturnya dibangun, konsumsi gas melompat cepat.

Pembangunan infrastruktur itu sudah dilakukan sebetulnya, meskipun masih dalam skala kecil. Distribusi gas kota ada di Jakarta, Bogor, Medan, Surabaya. Pelanggannya sedikit. PGN sedang membangun pipa transmisi untuk mengirimkan gas Sumatra Selatan ke Jawa Barat. Namun, jumlah yang dialirkan nantinya belum cukup untuk menghentikan laju konsumsi BBM kita. Sejumlah gas kita malah dialirkan dengan pipa ke Singapura/Malaysia. Sedangkan pembangunan pipa transmisi untuk membawa gas dari Kalimantan ke Jawa - membutuhkan biaya sekitar Rp. 15 trilliun- dalam rencana untuk diwujudkan.

Tekad bersama membangun gas

UU Minyak & Gas Bumi (UU No. 22 tahun 2001) membawa spirit baru: memprioritaskan gas untuk konsumsi domestik. Mengikuti UU, Badan Pengatur Hilir Minyak danGas (BPH MIGAS) telah dibentuk dengan tugas mengembangkan industri hilir dan mendongkrak pemakaian gas di dalam negeri. Di sisi hulu, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP MIGAS) menegaskan komitmen untuk menyediakan gas bagi pasar domestik. Dengan unbundling dan kompetisi, pemain di industri hilir gas -selain Pertamina dan PGN kini- akan makin banyak.

Dukungan politik terhadap gas telah diberikan, namun itu saja belum cukup. Pekerjaan detil mesti dilakukan. PP Hilir -tuntunan pengembangan industri hilir, termasuk gas- terlalu lambat diterbitkan. Master plan pengembangan jaringan transmisi dan distribusi gas nasional belum diumumkan ke masyarakat. Jelas, ini menghambat investasi.

Di samping regulasi, percepatan pembangunan infrastruktur gas membutuhkan faktor lain, misalnya pendanaan. Transmisi dan distribusi gas kita yang sedikit itu dibangun mengandalkan pemerintah dan pinjaman WB, ADB, European Investment Bank, dan JBIC-Jepang. Kemampuan pemerintah makin terbatas. Sebentar lagi, pembangunan infrastruktur gas yang semakin banyak tak mungkin mengandalkan pola lama. Keterlibatan masyarakat yang lebih besar dibutuhkan untuk membiayai dan melakukan pembangunan itu. Dibanding subsidi BBM, biaya untuk membangun infrastruktur gas itu sesungguhnya tidak mahal.

Pemakaian gas yang makin banyak akan menurunkan ketergantungan pada BBM (mengurangi subsidi BBM), memperbaiki keamanan pasokan energi, dan memberikan kita lingkungan lebih bersih. Percepatan pembangunan infrastruktur gas mempercepat jalan ke situ.

Presiden SBY mencanangkan Infrastructure Summit Januari 2005 ini. Sejumlah isu infrastruktur -seperti jalan tol, perumahan, dan kelistrikan- akan dibahas. Semoga pembangunan infrastruktur untuk mendongkrak pemakaian gas bumi di pasar domestik juga diperhatikan.***

Sumber : Koran Tempo (23 November 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 13 Desember 2004

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI