energi lihat situs sponsor
 
Jumat, 21 September 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Menghemat Energi pada Industri Perhotelan
pembaruan/luther ulag

Kita tidak punya pohon uang Nak, matikan TV kalau kamu tidak menontonnya! Sekali-sekali dengarkanlah nasihat ibu Anda. Mohon maaf, bukannya bermaksud untuk bias gender, tapi sepertinya kaum ibu rumah tanggalah yang pertama kali sadar pentingnya menghemat listrik. Betapa tidak! Mereka dituntut untuk bisa mengatur keuangan rumah tangga ketika beban perlahan-lahan naik. Tarif listrik sejak lima tahun terakhir telah naik lebih dari lima kali lipat. Demikian pula biaya telepon, BBM, dan biaya hidup sehari-hari. Keadaan ini memaksa kaum ibu untuk mengecangkan ikat pinggang, termasuk menghemat listrik.

Tidak hanya listrik, ibu saya pun akhir-akhir ini suka mampir ke warung sebelah untuk beli minyak tanah. "Sayang gasnya Nak, makin lama harga per tabung makin mahal, padahal kalau mau masak rendang, paling tidak harus 3 jam". Terlepas dari nilai kalor minyak tanah yang lebih rendah dari LPG, Ibu saya lebih memilih untuk menyikat pantat penggorengan yang hitam akibat penggunaan kompor minyak daripada membeli tambahan satu tabung LPG. Bisa saya pastikan, Lebaran nanti, kompor minyak tanah itu pasti akan keluar lagi untuk merebus ketupat!

Namun sayangnya, tidak semua orang berpandangan seperti itu, tengoklah gedung perkantoran nan megah di kawasan Sudirman. Hampir semua gedung di sana menggunakan AC yang niscaya jika Anda berada di dalamnya bisa membuat Anda berpikir sedang berada di Rusia. Ironisnya, mereka lebih memilih untuk menggunakan jas dan blazer yang tebalnya 5 cm daripada menaikkan termostat AC.

"Buat apa, toh saya menyewa ruang kantor ini sudah termasuk listrik!". Padahal, satu derajat kenaikan dari termostat memiliki potensi penghematan hingga 5 persen.

Paradigma seperti itu juga terlihat di industri perhotelan. Hasil studi Pelangi pada bulan Juli tahun ini memperlihatkan minimnya pengetahuan kalangan staf dan manajemen hotel tentang pentingnya penghematan energi. Mereka masih menganggap bahwa biaya listrik yang mahal tercermin dari pelayanan yang mereka berikan pada tamu. Atau dengan kata lain, untuk meningkatkan daya saing dengan hotel lain, maka otomatis harus meningkatkan penggunaan energi. Ironisnya, cara pandang seperti ini justru kita dengar dari kalangan pengelola hotel melati-3 hingga bintang-3. Padahal merekalah yang paling rentan terhadap perubahan tarif listrik. Di hotel melati, listrik menempati urutan kedua pos pengeluaran terbesar setelah gaji karyawan. Sementara di hotel bintang tiga, menempati nomor 3 setelah gaji karyawan dan biaya makanan dan minuman.

Selain itu, melakukan penghematan energi mereka pandang sebagai investasi 'mahal' yang harus mereka keluarkan. "Menghemat energi itu Mbak, artinya saya harus mengganti AC window jadi AC Split, wah mahal sekali itu!" Atau seperti ini, "Kalau harus ganti semua bohlam dengan lampu TL, mana sanggup! (harga) Satunya saja sudah Rp 30.000!".

Melakukan penghematan energi pada industri perhotelan memang memiliki tantangan tersendiri. Umumnya, pengelola hotel enggan untuk melakukan penghematan karena takut menurunkan tingkat kenyamanan hotelnya. sebagai konsekuensinya, peraturan yang diterapkan pada hotel-hotel tersebut kadang kala juga cenderung boros energi. Katakanlah hotel X yang berlokasi di daerah Senen, setiap staf housekeeping tiap harinya diwajibkan untuk menyalakan AC di semua ruangan kamar, baik ada tamu ataupun tidak. Jika sampai pukul 17.00 kamar tersebut tetap tidak terjual, baru AC dimatikan. Selain itu, mereka juga memiliki fasilitas laundry yang cukup lengkap, termasuk di antaranya adalah pengering pakaian berdaya 12.000 watt yang setiap harinya digunakan untuk mencuci 40-50 pasang seprei saja! Yang notabene jauh dibawah kapasitas maksimumnya.

Selain peraturan yang tidak mendukung, minimnya pengetahuan staf juga dikeluhkan oleh manajemen. Berikut adalah satu contoh keluhan seorang wakil manajemen wilayah perkemahan di Jakarta. Mereka memiliki suplai sekian puluh lampu tembak 1.000 watt yang biasa mereka sewakan. "Pernah saya menjumpai salah satu staf saya mengeringkan kaus kakinya yang basah karena kehujanan dengan menyalakan dua lampu 1.000 watt!" Selain itu, walaupun mereka sudah sering diingatkan untuk mematikan lampu jika tidak digunakan, pada praktiknya banyak sekali lampu-lampu taman, jalan, atau wisma yang hingga siang hari belum dimatikan. "Mungkin lebih efektif buat saya untuk mengkaryakan satu orang yang kerjanya hanya keliling untuk mematikan lampu!"

Sudah saatnya mengubah cara pandang seperti itu. Nyatanya, Indonesia bukanlah lagi kolam susu di mana tongkat dan kayu jadi tanaman. Karena 200 juta penduduk Indonesia tidak melakukan penghematan energi, Indonesia kehilangan Rp 11,65 triliun pada tahun 2000. Padahal pada tahun tersebut, ada potensi penghematan sebesar 11,13 persen dari total konsumsi energi.

Menurut Agenda 21 Indonesia, sektor energi dan sektor rumah tangga memiliki peluang penghematan hingga 10-30 persen dari kebutuhan yang ada saat ini, sedangkan sektor industri dan transportasi memberikan kontribusi penghematan yang lebih besar lagi, yaitu 24-30 persen.

Khusus untuk industri perhotelan, berdasarkan studi yang dilakukan Pelangi, potensi penghematan berkisar antara 15-30

Sumber : Suara Pembaruan (3 November 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 22 November 2004

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI