energi lihat situs sponsor
 
Senin, 19 November 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Panas Bumi untuk Budi Daya Jamur dan Kentang
Red SP

Pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang berimplikasi pada naiknya harga BBM memang menyesakkan. Apalagi untuk sebuah aktivitas yang budayanya adalah menggunakan BBM sebagai bahan baku.

Istimewa

PANAS BUMI - Dengan tenaga panas bumi, telah berhasil dibudidayakan jamur Champignon dan kentang di Pangalengan, Jawa Barat. Selain itu, pemanfaatan energi panas bumi itu sudah pula diaplikasikan untuk kegiatan pengeringan teh dan pasteurisasi.

Seiring dengan itu, penggalian dan perisetan energi alternatif pun semakin digiatkan. Pengubahan kebiasaan menggunakan BBM dengan energi alternatif memang selayaknya dilakukan. Maksudnya tentu saja tidak berusaha menafikan BBM, hanya suatu penyediaan pilihan dan alternatif saja.

Seperti yang dilakukan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pemanfaatan Sumberdaya Energi (P3TPSE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan PT Rekayasa Industri dan Pertamina Area Panas Bumi Kamojang. Mereka melakukan penelitian dan upaya pemanfaatan energi panas bumi di bidang agroindustri.

Dengan tenaga panas bumi, telah berhasil dibudidayakan jamur Champignon dan kentang di Pangalengan Jawa Barat. Pemanfaatan energi panas bumi dimaksud, bahkan sudah pula diaplikasikan untuk kegiatan pengeringan teh dan pasteurisasi.

Menurut Jatmiko P Atmojo dari P3TPSE BPPT di Jakarta baru-baru ini, pemanfaatan panas bumi untuk budidaya jamur dimaksud untuk mengganti penggunaan BBM. BBM, lanjutnya, biasa digunakan petani jamur untuk mensterilkan media tanam.

Jamur membutuhkan media tanam yang bersih dan steril. Untuk mendapatkan media tanam seperti ini, petani biasa menggunakan uap air tawar untuk mengukus media tanam. Suhu yang digunakan biasanya antara 60 hingga 80 derajat Celsius dan pengukusan seperti itu berlangsung sekitar delapan hingga sepuluh jam.

Maksud, pengukusan seperti itu agar hama dan virus yang ada dalam media tanam jamur misalnya, jerami atau ampas tebu tersebut mati. Hal sama juga berlaku pada tanaman kentang.

Metode seperti itu tentu saja akan memakan BBM yang lumayan banyak. Bayangkan, pengukusan dengan panas sedemikian dan waktu yang dibutuhkan cukup lama. Belum lagi kalau media tanam yang hendak disterilkan dimaksud cukup luas.

Pemanfaatan energi panas bumi yang dilakukan itu sebagai bagian pemanfaatan teknologi yang sebetulnya ditujukan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas (PLTP) Bumi. Sumur-sumur yang digali guna keperluan PLTP, bila laju produksi uapnya telah berkurang, maka tidak memenuhi syarat untuk memasok PLTP.

Sumur seperti inilah yang dimanfaatkan sebagai agroindustri untuk membudidayakan jamur dan kentang.

Uap panas bumi dari sumur kendati sudah tidak selaju waktu memasok PLTP bisa dialirkan ke dalam peralatan pemindah panas. Pada peralatan pemindah panas itu, air tawar bersih dialirkan. Dari air tawar bersih inilah, didapat uap air untuk mensterilkan media tanam jamur dan kentang. Media pengolahan air tawar bersih menjadi uap air dimaksud dengan menggunakan peralatan heat exchanger.

Apakah energi panas bumi yang memindah panas dan menguapkan air tawar yang dialirkan itu akan mengandung uap air yang lebih dan berdampak pada jamur atau kentang? ''Jamur dan kentang yang dihasilkan akan sama dengan yang dibudidayakan bila menggunakan BBM, hanya saja dengan pemanfaatan panas bumi, biaya yang akan dikeluarkan akan lebih efisien dan hemat,'' jawab Untung Sumotarto juga dari P3TPSE BPPT.

Menjawab Pembaruan apakah uap air dengan tenaga panas bumi itu tidak mengandung uap air yang berlebih mengingat panas bumi merupakan sumber energi yang berasal dari air tanah yang mendapat pemanasan dari magma panas dalam bumi, Untung mengatakan, memang ada penerapan tertentu. "Agar hasil tanaman tidak mengandung uap air yang berlebih maka khusus tanaman kentang yang memakai energi panas bumi, media tanamnya harus dilapisi plastik,'' terangnya.

Pengeringan

Selain digunakan untuk mensterilkan media tanam jamur dan kentang, energi panas bumi dari sisa sumur PLTP ini juga bisa digunakan untuk proses pengeringan produk pertanian dan proses pasteurisasi susu sapi. Teknik pengeringan produk pertanian itu telah dilakukan tiga pabrik pengeringan daun teh di Malabar, Kertamanah dan Purbasari Pengalengan Jawa Barat.

Hasil pengeringan daun teh dengan energi panas bumi dimaksud lebih bagus karena sifat kontinuitasnya lebih terjamin, ketimbang bila dikeringkan dengan energi matahari. Bahkan pengeringan dengan cara oven, selain memakan biaya pembakaran untuk memanaskan oven juga akan mengurangi rasa nikmat pucuk daun teh. Tampaknya, pemanfaatan seperti ini apalagi menghasilkan suatu energi alternatif, memang layak dikembangkan. (N-5)

Sumber : Suara Pembaruan (16 Mei 2002)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 22 November 2004

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI