energi lihat situs sponsor
 
Jumat, 21 September 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Fuel Cell Bikin Handset Lebih Bandel
cbn

Dari mana sumber energi ponsel Anda? Tentu saja baterai. Tapi tak lama lagi batere ponsel akan tinggal sejarah karena dianggap justru 'membuang-buang' energi yang seharusnya dihemat. Bahkan raksasa ponsel yang berbasis di Finlandia, Nokia baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang cukup menggegerkan. Mereka menilai teknologi batere ponsel tak bisa diandalkan lagi untuk mengikuti irama dan fungsi alat komunikasi nirkabel itu di era digital.

Sebagai alternatifnya, kini mulai muncul fuel cell hidrogen dalam ukuran mini yang kemampuannya bisa digenjot hingga 50an dinilai mampu melayani 'irama gerak' ponsel apapun juga.

Dalam kaitan itulah dua pakar yaitu Suk Won Cha dan Fritz Prinz dari Universitas Stanford, California kini sibuk bagaimana agar ponsel hasil karya teknologi canggih seperti sekarang ini bisa lebih bertenaga dan tidak cepat loyo. Seperti dilaporkan Spacedaily.com edisi 4 Maret, mereka bahkan mengklaim sudah menemukan cara untuk meningkatkan kinerja sel secara dramatis. Namun untuk sementara waktu efek tersebut baru bisa dirasakan atau bekerja pada fuel cell hidrogen.

Sebaliknya sumber energi ponsel berbentuk metanol cair justru kini tengah dipertimbangkan penggunaannya oleh dua raksasa manufaktur yaitu Motorola dan NEC. Tujuannya sama yakni mengembangkan ponsel maupun laptop bertenaga fuel cell. Kedua perusahaan tersebut lebih tertarik pada metanol karena dinilai bisa mengeluarkan lebih banyak energi ketimbang hidrogen. Hal ini bagi mereka sangat penting agar ruang 'bahan bakarnya' tidak memakan tempat terlalu banyak.

Persoalannya metanol adalah racun, sedangkan fuel cell-yang penggunannya bisa menyebabkan efek rumah kaca-merupakan 'limbah'. Perlu diketahui, hidrogen hanya memproduksi air. Nah, sejalan dengan 'proyek akal-akalan' Cha, maka itu bisa memperkuat daya kerja 'bahan bakar' ponsel atau sarana telekomunikasi bergerak lainnya. Fuel cell bekerja dengan menggabungkan bahan bakar dengan oksigen yang dihasilkan udara dan menggunakan energi terbebaskan untuk menghasilkan arus listrik.

Fuel cell versi Cha berupa tumpukan membran proton yang saling bertukaran berbasis polimer yang berada antara lapisan anoda dan katoda. Masing-masing terdiri dari katalis platina. Selanjutnya hidrogen bergerak menuju anoda melalui penghalang polimer berupa saluran. Saluran ini berukuran sekitar 500 mikrometer. Saat berada di anoda, platina membantu memecahkan hidrogen menjadi proton dan elektron. Proton kemudian bergerak menuju membrane dan berekasi dengan oksigen serta elektron dari katoda. Proses ini menyebabkan elektron tetap berada di medan listrik anoda terhadap katoda.

Kini tim Universitas Stanford tersebut tengah menanti apa yang akan terjadi jika saluran tersebut diperbanyak, namun ukurannya diperkecil. Mereka menggunakan proses 'garukan' microchip untuk memperdalam saluran dengan lebar hanya 20 mikrometer. Tujuannya adalah menaikkan kecepatan saat pengiriman hidrogen sekaligus mencegah anoda jangan sampai dibanjiri cairan bahan bakar.

Tambah kekuatan Proses ini terbukti mampu menggenjot tingkat pertukaran proton dan meningkatkan pula tenaga fuel cell hingga lebih dari setengahnya. Sebagai gambaran, laptop standar biasanya hanya dapat dipakai hingga empat jam tanpa perlu di-charge. Namun perusahaan pembuat hidrogen fuel cell ini berniat memproduksi sel yang mampu membuat laptop terus bekerja lebih dari 20 jam.

Menanggapi teknologi alternatif tersebut, David Hart, kepala riset fuel cell pada Imperial College London, mengatakan sangat terbuka kemungkinan untuk memperkuat tim pakar Universitas Stanford itu guna mengembangkan fuel cell yang jauh lebih besar dari sel-sel yang lebih kecil. Namun Manfred Stefener, pimpinan Smart Fuel Cells yang berpusat di Jerman, justru mengkhwatirkan limbah cair yang menumpuk di saluran mikro. "Semakin kecil Anda membuat saluran, makin besar risiko cairan yang mampat. Hal ini bisa menimbulkan bencana." Tapi Cha mengaku sudah mempertimbangkan kemungkinan risiko itu. (iz)

Sumber : CBN (dari Bisnis Indonesia), 13 Maret 2004

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 7 April 2004

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI