energi lihat situs sponsor
 
Senin, 19 November 2018  
 


kembali ke depan »  
Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Perlu Keputusan Politik Kembangkan Sel Surya
Redaksi Kompas

Bandung, Kompas - Sebagai negara yang dilewati garis khatulistiwa, Indonesia potensial mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya sebagai alternatif batubara dan diesel. Namun, hingga saat ini sikap pemerintah untuk mengembangkannya dirasa kurang serius.

Ahli sel surya, Wilson Wenas dari Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (28/10), di Bandung, mengatakan, belum ada keputusan politik untuk mengembangkan teknologi itu sebagai bagian dari industri strategis.

"Kami khawatir jika nantinya teknologi ini berkembang, Indonesia hanya jadi penonton. Padahal, Indonesia mempunyai nilai tambah sebagai negara khatulistiwa yang menerima panas matahari lebih banyak dari negara lain," katanya.

Menurut Wilson, aplikasi teknologi sel surya untuk sekarang memang relatif mahal, namun bila tidak mengembangkannya , nantinya Indonesia hanya akan menjadi pasar empuk bagi produsen luar.

"Dulu, aplikasi teknologi handphone juga pernah dilakukan oleh ITB. Tetapi, karena tidak ada keputusan politik mengenai industri handphone ini, akhirnya Indonesia hanya jadi konsumen. Mana ada handphone buatan Indonesia," katanya.

Menurut Wilson, booming handphone di Indonesia adalah tragedi, mengingat teknologi itu sesungguhnya sudah dikembangkan ITB hampir 20 tahun silam. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar teknologi sel surya tidak mengulang tragedi tersebut.

Wilson yang pernah meraih award dan hadiah 500.000 yen dari Tokyo Institute of Technology dengan proyek penelitian S3 teknologi semikonduktor dan aplikasi sel surya mengatakan, pengembangan berikut aplikasi teknologi membutuhkan waktu serta modal untuk industri.

Namun, pengembangan teknologi ini dilematis di Indonesia. Di satu sisi perakitan pembangkit listrik tenaga surya diwajibkan menggunakan komponen minimal 80roduk lokal, sedangkan di sisi lain pabrik pembuatan photovoltaic berupa film tipis sebagai komponen utama belum ada.

Di Jepang, teknologi sel surya sudah berkembang pesat sebagai industri dengan dipelopori oleh pemerintah setempat. Pada tahun 1974, harga selembar film tipis 25.000 yen/watt, tahun 1992 harganya sudah turun drastis menjadi 400 yen/watt.

Thin film bisa diproduksi apabila telah ada pabrik photovoltaic, sedangkan biaya pembuatan pabrik berkisar Rp 50 miliar-Rp 100 miliar. Sel surya bisa tahan dipakai 20 tahun. Selembar sel ukuran satu meter persegi bisa menghasilkan 100-150 watt. (zal)

Sumber : Kompas (29 Oktober 2003)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 3 November 2003

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2018 LIPI